SEJAK Amerika Serikat (AS) dan sahabatnya Israel, bersama-sama menyerang Iran pada tanggal 28 Februari 2026 lalu dan berakibat jihadnya Ali Hosseini Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, Donald Trump (Presiden AS) akhir-akhir ini sudah mulai terlihat sering berbicara ngawur alias asal bunyi (Asbun).
Bukan hanya pada cuitan media sosialnya saja, parahnya Trump melakukan Asbun terkadang dihadapan wartawan-wartawan hebat AS di beberapa kesempatan press conference resmi, sebagai Presiden AS.
Misalnya, ketika Trump menyebutkan sudah bernegosiasi dengan pihak Iran, ternyata pejabat Iran pun membantahnya dan mengatakan tidak pernah bernegosiasi dengannya, hingga perang itu-pun dihentikan oleh Iran sendiri.
Yang ada, ternyata Trump malah bertitip ‘paket’ untuk Iran melalui Pakistan dan memberikan syarat-syarat genjatan senjata yang tidak masuk akal, lagi terkesan ingin enaknya sendiri saja. Iran pun seakan tidak peduli dan terus menembakkan rudal-rudal hebatnya ke titik target musuh yang fatal secara simultan, hingga saat ini.
Baca>> Trump Klaim Iran Nego Diam-Diam, Takut Ngaku & Dibunuh Rakyat Sendiri
Parahnya lagi, Trump sempat beberapa kali menyampaikan ultimatum, mulai dari 48 Jam, 5 hari dan diperpanjang lagi kabarnya 10 hari, bahwa akan menyerang Iran dengan pasukan daratnya dan menargetkan Pulau Kharg di Teluk Persia. Akan tetapi, hingga saat ini pula, tidak satu orang pun pasukan AS yang singgah dan ngopi di pulau itu.
Tidak tanggung-tanggung, Trump secara konsisten terus menggaungkan kalimat ‘telah menang’ melawan Iran, tetapi faktanya hingga saat ini pun Iran menjawab dengan cara lebih konsisten pula menyerang pangkalan-pangkalan Militer AS di negara-negara Timur Tengah dan menargetkan banyak titik vital di Israel.
Biasanya, orang kalah akan berhenti dan yang menang menikmati hasilnya. Namun Trump seolah-olah seperti seseorang yang sedang menggigau karena sedang mendapatkan mimpi indah yang tak boleh dilaluinya sedetikpun. Parahnya, tak satupun perkataannya berbanding lurus dengan fakta dilapangan atas klaim kemenangannya itu.
Disiinyalir, sikap Asbun Trump ini tampaknya tidak sesederhana yang terlihat dan bukan pula dampak stres belaka. Diduga juga, ia sepertinya sedang memainkan taktik propaganda ekstrim, yang memiliki teori tertentu dalam melakukan ke-asbunannya itu saat menghadapi kemelut dan konflik terhadap Iran.
Sebagaimana teori anonim yang biasa kita baca, bahwa “Sebuah kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran”. Teori itu sepertinya sangat cocok dengan apa yang dilakukan Trump saat ini dan mungkin ia yakin sekali dengan teori itu lalu optimis menggunakannya. Tentunya dengan harapan ia akan memenangkan perang sesungguhnya dari Iran.
Lebih epicnya lagi, jika Trump konsisten melakukan ke-asbunannya itu, bisa saja ia sedang meminjam teori Aristoteles, yang berbunyi; “Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Maka, keunggulan bukanlah tindakan, melainkan kebiasaan”.
Maka dari itu, bisa jadi Trump membiasakan Asbun dan berbohong dihadapan publik, dengan besar harapan; publik terkecoh dengan cara-caranya itu. Dan, ia menganggap beberapa negara hanya diam saja menyaksikan kekonyolannya tersebut, tanpa melakukan apa-apa, karena AS adalah negara adidaya atau super power.
Baca juga>> Media Iran Gambarkan Trump sebagai Pinokio: ‘Pembohong Paling Menyedihkan di Dunia’
Dilain sisi, sebelumnya; Trump menyerukan agar rakyat Iran melakukan revolusi dengan demo dan merebut serta mengguling rezim Iran saat ini, karena ia telah berhasil menghabisi Ali Khamenei beserta beberapa pejabat tingggi Iran akhir Februari 2026 itu. Perkataan itu pun ibarat ‘senjata makan tuan’, ternyata dirinya sendiri lah pada tanggal 28 Maret 2026 kemarin di demo jutaan rakyat AS.
Pendemo di AS meneriaki ‘No Kings’ kepada Trump, hentikan konflik Iran, hentikan pengetatan imigrasi, hingga protes meningkatnya biaya hidup disana, karena dampak perang melawan Iran. Mungkin, yang bakal terjadi Trump lah yang berpotensi akan digulingkan oleh rakyatnya sendiri dan akan mengalami kekalahan lahir dan bathin.
Baca lagi>>> Jutaan Warga Turun, Demo No Kings Amerika Serikat Meledak
Sementara itu, melihat gelagat Trump dengan gejala stres yang sedang ia idap tersebut (memang belum adanya pemeriksaan psikologi khusus), kata menyerah untuk terus berbohong dan mengklaim kemenangan tidak akan berhenti begitu saja.
Sudah dapat dimungkinkan pula, ia akan terus melakukan tindakan Asbun-Asbun lainnya, guna mempertahankan dirinya tetap kokoh sebagai Presiden AS dan berhalusinasi mampu memusnahkan Iran.
Ironisnya, jika Trump dibiarkan dengan kondisinya seperti itu, dunia akan semakin tidak nyaman dan semakin tidak aman ke depannya. Bisa jadi, tanpa terpikirkan banyak orang, sebenarnya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang pernah dikatakan Trump adalah pemimpin tangguh, teman yang baik dan ia takut berselisih dengannya, dapat menjadi konselor khusus bagi Trump. Karena Trump sangat menyegani dan mungkin mendengarkan siraman-siraman rohani dari Prabowo.
Baca lagi ini>> Di Hadapan Pemimpin Dunia, Presiden Trump Sebut Presiden Prabowo Pemimpin Tangguh dan Dihormati Dunia
Alhasil, jika Prabowo mau mengingatkan dan didengar oleh Trump (karena ia memang susah untuk diingatkan dan tidak satupun pemimpin di dunia ini mau mengingatkannya), maka iapun melakukan ‘taubatan nasuha’ dan sadar dengan halusinasinya tersebut. Iapun terjaga dari mimpinya yang terlalu indah tersebut, akhirnya menjalani kehidupan normal kembali seperti sedia kala, dunia pun damai. (*)
*). Tajuk Rencana oleh: Rico Adi Utama
Pemimpin Redaksi Militer Post | Hotline: 0811 64 000 77










