banner 728x250

Dugaan Malapraktik di RS Hermina Serpong, Pasien akhirnya Meninggal Dunia?

  • Share
Kolase, kiri-kanan: Kondisi tangan Almarhum Idris Wake, diduga malapraktik, dengan latar RS Hermina Serpong. (Foto: Diolah dari berbagai sumber)
banner 468x60

Tangsel – Militer Post | Lili Agusnawati, Amd.Keb, salah-seorang warga Tangerang Selatan (Tangsel), tak sanggup menahan tangisnya, ketika membeberkan perihal kematian yang tidak wajar ayahnya, yang menurutnya disebabkan oleh dugaan malapraktik terhadapnya ayahnya itu, yang terjadi di Rumah Sakit (RS) Hermina Serpong.

 

Example 300x600

Almarhum Idris Wake (75 tahun), adalah ayah Lili Agusnawati. Ia menceritakan; bahwa, pada tanggal 13 Februari 2025 sekitar pukul 11.00 WIB, dirinya baru pulang dari menjemput anak dari penilaian renang di sekolahnya. Ia kemudian langsung naik ke lantai 2 rumahnya itu, untuk berganti pakaian dan menunaikan Sholat Dzuhur.

 

Tiba-tiba, ia mendengar suara benturan keras dari luar kamarnya. Ia pikir itu adalah ember AC yang diatap rumah jatuh atau vas bunga, dari lantai 2 ke lantai 1, karena biasanya seperti itu, ulah kucing di rumahnya.

 

Iapun bergegas keluar dari kamar, dan sontak saja terkejut melihat ayahnya sudah tergeletak tidak sadarkan diri dibawah tangga, dekat dari kamar mandi. Kondisi ayahnya itu tidak sadarkan diri, lalu ia berlari keluar rumah untuk meminta pertolongan, dengan panik.

 

Karena kondisi ayahnya itu tidak sadarkan diri, disertai kepala yang berdarah banyak, iapun akhirnya meminta tetangga depan rumahnya membantu memanggilkan security perumahan, tempat ia tinggal. Security pun datang dan membawa ayahnya ke rumah sakit terdekat dari rumahnya, yaitu RS Hermina Serpong.

 

“Karena kondisi saya panik saya meminta tolong tetangga saya untuk mengantarkan saya ke RS Hermina Serpong, sambil membawa anak saya yang berusia 7 tahun. Sesampainya di rumah sakit, ayah saya langsung dibaringkan di tempat tidur UGD. Saat itu Kondisi ayah saya sudah sadarkan diri dan muntah-muntah mengeluarkan darah, karena ada giginya yang retak. Sementara, kondisi tangan, kaki, wajah ayah saya tidak ada memar dan tidak ada pembengkakan,” ujar Lili, Jum’at (20/6/2025), kepada Militer Post.

 

 

“Saat di UGD, ayah saya mengeluh kesakitan di bagian dada, kepala pusing dan pinggang terasa sakit. Lalu, saya menginformasikan kepada dokter jaga tentang kondisi ayah saya itu dan suster di UGD mulai infus tangan ayah saya. Saat diinfus di UGD itu, tangan kiri ayah saya masih dalam kondisi baik-baik saja, cairan infus menetes dengan lancar. Setelah ayah Saya mendapatkan cairan infus dan anti nyeri, dokter jaga menyarankan untuk CT Scan kepala ayah saya. Hasil CT Scan, kata kepala dokter bedah syaraf, masih aman. Dokter itu menyarankan untuk dilakukan Debridement dan Reparasi kepala ayah saya yang mengalami cedera,” ulasnya.

 

“Setelah itu, ayah saya dibawa ke ruang operasi RS Hermina, sekitar pukul 17.00 WIB. Ayah saya dilakukan Debridement dan Reparasi Kepala. Sekitar pukul 19.00 WIB, ayah saya selesai operasi. Dan, saat diruang observasi atau ruang RR, saya melihat kondisi tangan kiri ayah saya yang diinfus masih aman,” imbuhnya.

 

“Tidak ada pembengkakan dan tidak ada tanda-tanda kehitaman serta cairan infus menetes dengan lancar. Pukul 21.00 WIB (hari yang sama), ayah saya dipindahkan keruangan perawatan biasa dilantai 4 RS Hermina Serpong. Pada pukul 5.00 WIB pagi, tanggal 14 Februari 2025, ayah saya dipindahkan ke ruang ICU, karena laporan dari suster jaga di rumah sakit itu, ayah saya mengalami sesak nafas, lemas dan tensinya rendah,” ujarnya lagi.

 

“Saat di ICU itu, ayah saya diberikan obat Intravena, untuk menaikkan tekanan darah dan gula darah, karena gula darah ayah saya rendah. Saya dapat info dari dokter jaga dan suster di ICU, bahwa ayah saya diberikan obat cairan Intravena D40, D10, Vascon dan Ampisilin Sulbaktan. Ayah saya diberikan obat cairan Intravena ditangan kiri dan mengalami pembengkakan, tangan menghitam di bagian infusan,” kata Lili.


Kecurigaan Mulai Muncul

Lili pun mulai menaruh curiga, sebab; setelah itu suster RS Hermina Serpong melepas infus dari tangan kiri ayahnya dan dipindahkan ke tangan kanan. Pada waktu itu, ayahnya dalam kondisi tangan sudah bengkak dengan pemberian obat yang sama.

 

Kemudian, pada pukul 18.00 WIB, ia menyuapkan makan malam kepada ayahnya dan heran melihat tangan ayahnya sudah semakin membengkak, berisi cairan dan kulit mulai menghitam.

 

“Setelah itu, saya memberitahu suster untuk melepaskan infus di tangan kanan ayah saya. Namun, suster ICU bilang tidak apa-apa, masih aman. Saya keluar dari ruang ICU. Sekitar pukul 20.00 WIB, saya masuk lagi keruang ICU untuk melihat kondisi ayah saya dan saya mendapati tangan kanan ayah saya semakin membengkak dan menghitam serta dipenuhi cairan dibawah kulit,” ungkap Lili.

 

“Saya beritahukan hal itu kepada suster lagi, untuk dilepas saja infusannya  dan susternya berkata tidak apa-apa, masih aman katanya. Saya disuruh keluar dari ruangan ICU dengan alasan sudah bukan jam berkunjung,” paparnya.

 

Lebih lanjut Lili menceritakan lagi, pada tanggal 15 Februari 2025 sekitar pukul 05.00 WIB pagi, dirinya dihubungi via telepon oleh perawat ICU RS Hermina Serpong, untuk datang kesana, karena diminta tandatangan surat persetujuan pemasangan CVC (pemasangan infus diselangkangan paha). Iapun segera ke RS Hermina Serpong, untuk tanda tangan surat persetujuan.

 

Pada pukul 06.00 WIB, tindakan CVC mulai dilakukan. Setelah CVC dipasang, baru infus ditangan kanan ayahnya itu, yang sudah membengkak dan menghitam dilepaskan.

 

“Saya melihat kondisi tangan ayah saya sudah melepuh, bengkak, susah digerakkan dan menghitam sampai ke jari-jari tangan ayah saya,” ujar Lili.

 

Ulas Lili lagi, pada tanggal 16 Februari 2025, kondisi tangan ayahnya semakin memburuk, perawatan luka tangan ayahnya di ICU RS Hermin, hanya dikompres dengan cairan Nacl dan pemberian salep Thrombopop Gel.

 

“Saat itu, ayah saya diperiksa oleh Dokter Bedah Vaskuler RS Hermina. Lalu, dokter itu menyarankan untuk dilakukan Heparinisasi, yaitu pemberian obat pengencer darah. Sebelum dilakukan pemberian obat Heparinisasi, ayah saya disarankan untuk dilakukan pemeriksaan CT Angiografi. Sedangkan, RS Hermina tidak ada alat CT Angiografi dan dokter jaga di ICU menyarankan ayah saya untuk dirujuk ke RS Hermina rekanan yang di Depok,” ujarnya.

 

“Saat itu, saya keberatan untuk ayah saya dirujuk ke Depok, dikarenakan setelah dari RS Hermina Depok, ayah saya dibawa kembali ke RS Hermina Serpong. Saya menolak, karena melihat dari kondisi ayah saya yang masih lemas dan tangan kanannya kesakitan. Saya takut kondisi ayah saya semakin memburuk, jika dibawa bolak-balik menggunakan ambulans,” tegasnya.

 

“Akhirnya, saya meminta untuk ayah saya dirujuk ke RS Primaya Hospital Tangerang. Karena saya sudah dapat info, kalau alat CT Angiografi disana tersedia. Tetapi, ternyata menurut info dari suster ICU RS Hermina Serpong, kamar di RS Primaya Hospital Tangerang full. Lalu, saya meminta untuk ayah saya dirujuk ke RS Tipe A; RSPAD. Dan, info dari perawat ICU Hermina Serpong; RSPAD tidak ada respon. Kemudian, berlanjut ke RS. Soeyoto, info dari perawat ICU Hermina Serpong, alat CT Angiografi disana belum tersedia,” beber Lili.

 

Lebih lanjut kata Lili, akhirnya ayahnya itu dirujuk ke RSCM pada tanggal 19 Februari 2025 pukul 22.00 WIB. Sesampainya di RSCM, ayahnya diperiksa oleh dokter jaga UGD RSCM dan dirawat di ruang UGD lantai 3. Pada tanggal 20 Februari, pukul 07.00 WIB, ayahnya direncanakan akan dilakukan pemeriksaan CT Angiografi dan Rontgen dada di RSCM.


Penyebab Pembengkakan Terungkap

“Setelah dilakukan pemeriksaan CT Angiografi dan Rontgen, dada ayah saya diberikan terapi Heparinisasi sampai tangan kanan ayah saya bengkaknya menurun dan warna kehitaman ditangan ayah saya mulai berkurang. Setelah diberikan terapi Heparinisasi dan dilihat dari hasil pemeriksaan CT Angiografi, Dokter Spesialis Bedah Plastik RSCM memberikan keterangan, bahwa ayah saya mengalami Ekstravasasi pada tangan kanannya, yaitu kerusakan infus berat, yakni infus yang sudah mengalami Ekstravasasi lama dilepas dan dibiarkan dari malam sampai pagi oleh petugas medis ruang ICU RS Hermina Serpong,” ungkap Lili.

 

“Akibat dari kelalaian petugas medis RS Hermina Serpong, ayah saya harus menjalani pengobatan Heparinisasi dan akan dilakukan tindakan operasi, dengan kondisi ayah saya riwayat gagal jantung dan Autoimun. Dilihat dari hasil Echo jantung; bahwa katub jantung ayah saya sudah mengalami pengapuran. Dokter spesialis bedah plastik akan merencanakan operasi tangan kanan ayah saya di minggu depannya,” papar Lili.

 

Setelah tindakan operasi itu, ayah Lili akhirnya disarankan untuk rawat jalan dan dibawa pulang. Tidak beberapa hari setelah itu, ayahnya mengalami keadaan yang darurat dan ketika hendak dibawa kembali ke rumah sakit terdekat, tetapi akhirnya tidak terselamatkan, meninggal dunia.

 

Dari penjelasan itu, Lili akhirnya mengetahui adanya dugaan malapraktik yang terjadi di RS Hermina, dari mulai penanganan awalnya ayahnya. Intinya, diduga akibat terlalu lama terpasang jarum infus, mengakibatkan tangan ayahnya melepuh dan korban mengalami kejanggalan/ pembengkakan, mengakibatkan meninggal dunia.

 

Militer Post melakukan pengembangan dan investigasi masif, terkait informasi Lili. Dan, diketahui, ternyata Lili dan pihak RS Hermina sudah dipertemukan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangsel, baru-baru ini, menurut informasi salah-seorang staf disana, ketika dilakukan kontak telepon. Hal itu, disinyalir merupakan komunikasi pihak Lili dengan pihak RS Hermina, yang dimungkinkan upaya mediasi untuk kedua belah pihak.

 

Kemudian, agar informasi tidak berat sebelah dan dapat berimbang, Militer Post meminta keterangan dengan mengkonfirmasi Kepala Jaga (KaJaga) RS Hermina, memastikan informasi Lili sesuai dengan apa yang ia ceritakan itu. KaJaga itu pun terkesan menghindar dan ia beralasan, bahwa informasi pribadi pasien, hanya keluarga pasien yang dapat mengetahui.

 

“Mohon maaf pak sebelumnya, untuk informasi pribadi pasien, hanya akan kami berikan kepada penanggung jawab pasien,” kata KaJaga RS Hermina, kepada Militer Post, melalui chat WhatsApp-nya, Jum’at (4/7/2025).

 

Ketika dijelaskan, bahwa hal ini sudah menjadi konsumsi publik atas dugaan malapraktik, KaJaga RS Hermina tidak memberikan respon kembali, alias bungkam. (Delta Team)

banner 325x300
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *